Tahukah kau sumber keributan di otakku di kala subuh menjelang?
Aku teringat akan senyum yang menawan
Menawan sela sela nafas didalam paruku
Menjebak oksigen untuk bertahan dan mengalirkan semangat baru
Seketika berbagai asam dalam darah ku begejolak
Tapi tak mampu berteriak
Insulin pun menyerah
Tak kuasa mengimbangi kadar gula setiap senti wajah indahmu
Kau tau bidadari?
Mungkin tau, kau senang membaca dan bergaul di dunia maya
Tapi aku tidak
Bahkan aku tak percaya akan adanya bidadari
Tapi itu dulu
Sebelum aku mengenalmu
Seiring melodi yang dikicaukan oleh burung burung yang bangun terlalu pagi
Atau semilir angin yang menggoda daun daun nyiur untuk berbisik
"Lihat! Buka matamu nak"
"Bidadari itu sengaja meninggalkan selendangnya"
Apalagi yang kau tunggu?"
Aku terdiam, apakah aku bermimpi?
Ku buka jendela kamarku untuk mendengar lebih jelas
Ku arahkan pandangan jauh ke ufuk horizon
Matahari belum terjaga gumamku
Tapi mengapa nyiur ini mengatakan seolah aku sudah berada di tepian jurang bahagia
Apakah aku harus lompat sekarang?
Atau ku lanjutkan tidur untuk memimpikannya
Atau mimpiku tadi siap menjadi kenyataan
Masih teringat kata katanya
Tak ada mimpi yang tak teraih, kecuali kau tidak mau berusaha keras meraihnya
Derikan jendela yang menutup dirinya sendiri mengertak lamunanku
Yang kini pergi kocar kacir di kejar kenyataan
"kau sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan"
Luangkanlah sejenak, masa gembiramu.
Masa dimana kau harus memulai mimpimu
Wujudkan bersamanya!
Rona jingga mulai mewarnai kaki langit
Tuan mentari pasti ingin berseri
Tapi hari ini, seakan dia malu untuk keluar
Awanpun bertanya, knapa kau sedih tuan mentari?
"Aku kecewa, anak muda itu hanya menyimpan hatinya dalam bayang bayang mimpi, tanpa tau bahwa iya hidup dalam realita kenyataan"
Awan pun menangis, membasahi pucuk hehijauan.
Dan aku memilih tidur, dan berharap aku bisa tetap bermimpi dan terus bermimpi
Selendang itu aku serahkan ke burung merpati yang siap bernyanyi dibawah lembayung subuh..
Maaf aku takut memulai.