2.07
aku masih membiarkan jemariku menjelajahi keyboard dan touchpad dengan lincahnya.
sesekali ujung telunjuk menekan tombol kiri tikus. Ya aku sedang berselancar di duniaku. Dunia yang penuh warna. Dikala gelappun aku bisa melihat indahnya dunia.Yang dirangkum dengan apik diantara foto_foto dan tulisan yang mempesona. aku ingin seperti mereka.
yang bisa merangkai kata demi kata, membingkai setiap cahaya yang mereka temukan. menjadi sebuah cerita yang bisa membuatku bagai berada disana.
aku pernah mengunjungi tempat-tempat favorit wisatawan dunia. mulai dari keajaiban alam, keindahan taman bunga, warna warni terumbu karang, bahkan sampai keluar angkasa.
hanya dengan jari ini, aku lintasi semuanya.
ini duniaku
dunia maya
disini aku jalin hubungan bersama orang orang yang luar biasa. orang yang biasanya hanya aku lihat di televisi. semuanya ada.
tapi tetap saja, aku butuh lebih.
aku tetap buth teman nyata. tempat berbagi tawa.
didunia ini hambar rasanya. walau aku bahagia, tapi aku tak tau membaginya pada siapa.
aku manusia, aku mau melihat mimik, gerak gerik, tawa canda dan derai air mata.
tak bisa kudapatkan disini.
2.18
tiba tiba mataku mengirimkan pesan ke otak. "aku minta hak ku"
terjadi perdebatan hebat di alam bawah sadarku, sementara jemari masih menarikan nyanyian hati. semakin malam semakin tidak beraturan.
tenang mataku, kau dapatkan hakmu sekarang.
Minggu, 19 September 2010
Lhokseumawe
Lhokseumawe
Seperti biasa, perjalanan normalku menuju sebuah kota kecil di aceh. Lhokseumawe, kota sejuta kenangan. Kota yang dulunya dijuluki Petro Dollar, sekarang mati. Ditinggal para pencari rezeki karena sumberdayanya telah habis.
Dulu, lebih dari lima proyek vital raksasa bertenaga gas alam cair menggerakkan perekonomian, menjadikan kota ini impian segala orang untuk bekerja. Tiga perumahan mewah, kontras dengan sekeliling mereka. Mobil-mobil terbaru, dan pakaian mahal sangat mudah kita temui dipakai oleh warga kotanya.
Denyut perekonomian melambat, seiring dengan kekacauan politik dan keamanan, yang ditambah oleh masalah orientasi ekspor.
Pemerintah lebih mengutamakan menjual gas ke bangsa luar. Secara jangka pendek lebih menguntungkan. Beberapa perusahaan kolaps, tak mampu membeli gas yang ditawarkan pemerintah. Tahun 2004 3 perusahaan menghembuskan nafas terakhirnya, walaupun “hanya” mati suri.
Eksodus besar-besaran melanda, orang-orang kebingungan. Mereka yang memilih kembali ke kampung halamannya memutar otak mencari sumber penghasilan baru, yang memilih tinggal. Menunggu janji-janji pemerintah akan hidupnya kembali pabrik-pabrik itu.
Janji surga.
Akhirnya besi-besi lapuk dimakan usia, aset-aset hancur dimakan tikus dan kerasnya cuaca.
“Mereka yang angkuh mendirikan tembok pemisah antara kami dan kalian, membuat kita tak bisa bersatu. Selama ini kami hanya bisa melihat mobil mewah kalian dari bawah sini. Begitu pula polusi suara yang kalain hasilkan, kebocoran amoniak, dan limbah yang kalian buang ke laut nenek moyang kami. Kami benci, iri dengan kalian. Yang angkuh merasakan akibatnya sekarang.”
Lhokseumawe tanpa harapan
Lhokseumawe tinggal kenangan
Lhokseumawe tinggal impian
Bandar silaturahmi yang ditinggalkan
Seperti biasa, perjalanan normalku menuju sebuah kota kecil di aceh. Lhokseumawe, kota sejuta kenangan. Kota yang dulunya dijuluki Petro Dollar, sekarang mati. Ditinggal para pencari rezeki karena sumberdayanya telah habis.
Dulu, lebih dari lima proyek vital raksasa bertenaga gas alam cair menggerakkan perekonomian, menjadikan kota ini impian segala orang untuk bekerja. Tiga perumahan mewah, kontras dengan sekeliling mereka. Mobil-mobil terbaru, dan pakaian mahal sangat mudah kita temui dipakai oleh warga kotanya.
Denyut perekonomian melambat, seiring dengan kekacauan politik dan keamanan, yang ditambah oleh masalah orientasi ekspor.
Pemerintah lebih mengutamakan menjual gas ke bangsa luar. Secara jangka pendek lebih menguntungkan. Beberapa perusahaan kolaps, tak mampu membeli gas yang ditawarkan pemerintah. Tahun 2004 3 perusahaan menghembuskan nafas terakhirnya, walaupun “hanya” mati suri.
Eksodus besar-besaran melanda, orang-orang kebingungan. Mereka yang memilih kembali ke kampung halamannya memutar otak mencari sumber penghasilan baru, yang memilih tinggal. Menunggu janji-janji pemerintah akan hidupnya kembali pabrik-pabrik itu.
Janji surga.
Akhirnya besi-besi lapuk dimakan usia, aset-aset hancur dimakan tikus dan kerasnya cuaca.
“Mereka yang angkuh mendirikan tembok pemisah antara kami dan kalian, membuat kita tak bisa bersatu. Selama ini kami hanya bisa melihat mobil mewah kalian dari bawah sini. Begitu pula polusi suara yang kalain hasilkan, kebocoran amoniak, dan limbah yang kalian buang ke laut nenek moyang kami. Kami benci, iri dengan kalian. Yang angkuh merasakan akibatnya sekarang.”
Lhokseumawe tanpa harapan
Lhokseumawe tinggal kenangan
Lhokseumawe tinggal impian
Bandar silaturahmi yang ditinggalkan
Langganan:
Postingan (Atom)