Jumat, 19 Juni 2009

Sahara Intan

Dalam kegalauan pagi
Aku menemukan alamat
Kubeli 2 lembar perangko
Surat berisi satu kata ku kirim

Kau balas dengan suara
Yang meminta
Kutak bisa memenuhi
Kutak mau jatuh dalam permainan

Setelah nada nada indah dikala malam
Membuatmu tersentuh
Oleh harmoni hidupku yang mengalun indah
Di hamparan rumput liar bermandikan embun subuh

Terkadang rintihanmu membuatku tersentak
Aku telah terlalu jauh berjalan di malam hari tanpa lampu penerang


Kau bawakan aku lentera
Sebagai petunjuk malamku yang kosong
Gelap penuh dengan kebohongan yang mengantarkan aku pada
Kebiasaan tersakiti
Ku tlah larut dalam air hujan yang turun membasahi
Dahiku
Seakan berada dalam oven
Kau bakar daun daun hijau menjadin abu
Lalu abu itu kau usapkan ke wajahku


Ku menghitam dan wajahku terbakar perih
Tiada lagi embun yang biasa mendinginkan telapak
Kakiku di malamku berjalan menginjak hamparan
Rumput luas tanpa ujung pangkal

Seketika jantungku berdegup kencang
Cara kau memperlakukan aku membuatku terbangun
Dari mimpi bayangan hitam yang selalu menghantui malamku

Kuharap kau malaikat
Walau tak bersayap
Karena senyummu
Membuatku sadar arti hidupku

Walau tertunda tapi kuyakin
Kuberusaha
Kemauan ini
Menimbulkan harapan baru
Yang telah lama terkubur dalam peti harta karun yang tertanam
Di hatimu
Kini kumencari kunci peti itu
Walau ku tak bisa merasakan
Apa yang ada
Tapi keyakinanku ini membuatku bertahan

Walau gelap
Lentera yang kau bawa
Cukup jadi alasan mengapa ku bernafasa sekarang

Tidak ada komentar: