Minggu, 19 September 2010

Lhokseumawe

Lhokseumawe

Seperti biasa, perjalanan normalku menuju sebuah kota kecil di aceh. Lhokseumawe, kota sejuta kenangan. Kota yang dulunya dijuluki Petro Dollar, sekarang mati. Ditinggal para pencari rezeki karena sumberdayanya telah habis.
Dulu, lebih dari lima proyek vital raksasa bertenaga gas alam cair menggerakkan perekonomian, menjadikan kota ini impian segala orang untuk bekerja. Tiga perumahan mewah, kontras dengan sekeliling mereka. Mobil-mobil terbaru, dan pakaian mahal sangat mudah kita temui dipakai oleh warga kotanya.
Denyut perekonomian melambat, seiring dengan kekacauan politik dan keamanan, yang ditambah oleh masalah orientasi ekspor.
Pemerintah lebih mengutamakan menjual gas ke bangsa luar. Secara jangka pendek lebih menguntungkan. Beberapa perusahaan kolaps, tak mampu membeli gas yang ditawarkan pemerintah. Tahun 2004 3 perusahaan menghembuskan nafas terakhirnya, walaupun “hanya” mati suri.
Eksodus besar-besaran melanda, orang-orang kebingungan. Mereka yang memilih kembali ke kampung halamannya memutar otak mencari sumber penghasilan baru, yang memilih tinggal. Menunggu janji-janji pemerintah akan hidupnya kembali pabrik-pabrik itu.
Janji surga.
Akhirnya besi-besi lapuk dimakan usia, aset-aset hancur dimakan tikus dan kerasnya cuaca.

“Mereka yang angkuh mendirikan tembok pemisah antara kami dan kalian, membuat kita tak bisa bersatu. Selama ini kami hanya bisa melihat mobil mewah kalian dari bawah sini. Begitu pula polusi suara yang kalain hasilkan, kebocoran amoniak, dan limbah yang kalian buang ke laut nenek moyang kami. Kami benci, iri dengan kalian. Yang angkuh merasakan akibatnya sekarang.”

Lhokseumawe tanpa harapan
Lhokseumawe tinggal kenangan
Lhokseumawe tinggal impian
Bandar silaturahmi yang ditinggalkan

Tidak ada komentar: