ku selalu mencoba untuk memastikan hatiku
kemana dia akan memberitahukan ada ruang kosong yang dijual dan disewakan
aku menjual sebuah rumah mewah, dan menyewakan kosan disampingnya. seperti paviliusn, kosan atau yang lainnya.
tapi semenjak dibangun 21 tahun yang lalu, tidak ada yang berminat membeli rumah tersebut. mereka kebanyakan menyewa.
rata-rata menyewa slama satu tahun, ada juga yang menyewa sampai tiga tahun, tapi dida tidak menetap.
datang ketika dia berbelanja di kota besar ini, kapan dia butuh dia baru datang.
yang lain berniat membeli, tapi terlampau nyaman.
mereka takut kalau tidak bisa merawatnya, karena rumah mewah untuk dijual itu penuh barang-barang high class, lebih baik aku yang menjaganya atau kita jaga bersama sama.
aku tinggal semdiri di rumah mewah itu, aku fokuskan aku tinggal disitu saja, toh menghemat biaya daripada harus enyewa pengurus rumah dan keamanan, sekalian mengawasi kosanku. kosanku ramai selalu, kosan wanita. rata-rata kuliah di ekonomi, kedokteran, IAIN dan teknik. ada juga anak FKIP tapi tak dominan.
walau rame tapi terkadang, saat meraka pergi mudik atau lainnya, kosanku jadi sepi. jangankan untuk menelfonkum memberi kabar saja susah.
sudah 4 bulan semenjak penghuni terakhir pergi mudik, mereka tidak pernah kembali.
owh, ternyata mereka tidak berniat menyambung lagi.
mau menyewa rumah, yang sederhana saja katanya ketika kutanya kenapa gak ambil ruang kosong itu?
barang mereka masih tertinggal dihatiku
menyisakan berbagai kenangan indah saat bersama hidup dikosan itu. tapi berat, haruskah aku buang saja benda benda ini?
atau aku simpan di gudang bawah tanah?
selagi melamun, ada anak teknik yang berniat membeli rumah tersebut. heiii
ada apa gerangan?
benarkah?
aku harus jemput bola ni, sebelum dia menyewa kosanku saja/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar